بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Minggu, 30 Juni 2013

Naskah Drama "Malin Kundang"


MALIN KUNDANG

BABAK 1
                                             Sebermula, di desa terpencil terdapat sebuah keluarga nelayan di pesisir pantai wilayah Sumatra Barat. Dikarenakan kondisi keuangan yang memprihatinkan, sang ayah pun memutuskan tuk mencari nafkah di negeri seberang dengan mengarungi lautan yang luas. namun, ayah Malin tidak pernah kembali ke kampung halamannya sehingga ibunya pun harus menggantikan posisi ayah Malin untuk mencari nafkah.
Bundo                : Malin! Dimana kamu?
Nurhaida            : Kak Malin baru mencari kayu dihutan Bundo. Sebentar pula pastilah kak Malin  kembali.
Bundo                : Ini sudahlah malam, kenapa Malin tak segera pulang , bukankah jika malam hutan itu menakutkan.
Malin                 : (dengan tergesa-gesa) Malin pulang Bundo.
Bundo                : Darimana saja kamu Malin?
Malin                 : Mencari kayu, syahadan menjualnya dan Inilah hasilnya (sambil memberikan uangnya)
Bundo               : Jika hari menjelang malam kamu harus pulang malin.
Nurhaida           : Sudahlah Bundo. Yang penting kan Kak Malin sudah sampai dirumah ini.

BABAK 2
                                          Malin adalah orang yang pintar, dan pekerja keras. Tetapi Malin juga nakal. Pagi – pagi sekali Malin pergi ke pantai untuk menangkap ikan. Biasanya dia berlayar bersama temannya yang bernama Sultan. Sedangkan ibu dan adiknya mencari kayu dan menjualnya di penduduk desa atau pesara.
Sultan                : Hei Malin!
Malin                 : Ya? (sambil menoleh ke arah Sultan)
Sultan                : Aku akan pulang ke kota. Aku sudah rindu kepada keluargaku disana.
Malin                 : Wahh, kota kah? Aku ingin sekali ke kota.
Sultan                : Ehm, sepertinya kalau kamu ikut aku ke kota bisa lin,. Mau tidak kau?
Malin                 : Boleh saja. Disana banyak pekerjaan bukan?
Sultan                : Tentu saja. Nanti aku kenalkan pada kedua adikku. Mereka elok-elok lin.
Malin                 : Baiklah. Kapan kita berangkat tan?
Sultan                : Secepatnya lin. Bagaimana kalau esok hari? Aku tunggu kau di sini.
Malin                 : baiklah.

BABAK 3
Sesampainya dirumah, Malin pun bercerita dan meminta restu pada bundonya.
Malin                : Bundo, Malin ingin merantau ke kota dengan Sultan.
Bundo               : Bundo tak setuju lin! Bagaimana bisa kau meninggalkan bundo dan Nurhaida? Apa kau tak ingat apa yang telah terjadi pada ayahmu?
Malin                : Tak bisa. Malin akan tetap pergi esok bundo!
Nurhaida          : (menghapiri)  iya kak malin?
Malin                : Aku akan merantau besok dengan Sultan. Dia akan pulang ke kota
Nurhaida          : Tapi kak, apakah kak Malin tak memikirkan bundo dan Nur?
Malin                : Aku tak peduli, aku tetap akan pergi ke kota dengan  atau tanpa ijin bundo dan Nur !
                      Akhirnya bundo setuju. Meski berat namun ia rela melepaskan Malin pergi merantau.

BABAK 4
Keesokan harinya di tepi pantai dekat rumah Malin
Sultan                : Ayo Malin!
Malin                 : Inikah kapalmu? (dengan wajah kaget)
Sultan                : Ini milih ayahku, kita akan ke kota dengan ini
Malin                 : Baiklah (dengan semangat sekali sambil naik kapal itu)

BABAK 5
                                             Dalam beberapa jam Malin dan Sultan pun telah sampai di kota,mereka terkejut melihat hal yang berbeda dari desa Malin dengan kota ini
Malin                 : Waaahhh ini yang namanya kota
Sultan                : Iya lin, sudahlah ayo kita kerumahku
Malin                 : Baiklah
Beberapa menit mereka tiba dirumah Sultan
Sultan                : Inilah rumahku lin, cukup sederhana bukan?
Malin                 : bagus sekali tan? (dengan rasa kagum di wajah nya)
Sultan                : Lin kau bisa tinggal disini sampai kau berhasil mendapatkan uang yang banyak
Malin                 : Terimakasih tan, kau memang sahabatku
Sultan pun memanggil kedua adiknya untuk diperkenalkan kepada Malin
Sultan                : Wi? Ros?  kemarilah.
Dewi & Rosita  : Kak Sultan kembali,ada apakah? (sambil menghampiri Sultan dan Malin)
Malin                 : Siapa gerangan ini tan? (terkejut melihat perempuan nan elok itu)
Sultan                : Inilah adik-adikku lin, aku kan berjanji padamu akan memperkenalkan mereka sesampainya di kota
Malin                 : Ini mereka, wah benar katamu tan. Mereka sangat elok (dengan mata melotot)
Sultan                : Ini Malin, teman kak sultan. Malin, ini Dewi dan Rosita
Dewi                 : (dengan wajah malu) senang bertemu dengan kau.
Rosita                : Hai! ( sambil tersenyum)
Sultan                : Berkedip lin, sedari tadi melotot terus
Malin                 : Ah, kau ini tan.

BABAK 6
                                             Setelah beberapa bulan Malin tinggal di kota dan bekerja di tempat ayahnya Sultan, Malin dan Dewi pun saling menaruh hati, namun Rosita tampak cemburu dengan Dewi.
Ketika Malin dan Dewi bebicara di ruang tamu.
                     Malin                 : Dewi kau amat cantik, tak adakah yang menginginkanmu
Dewi                 : Terimakasih lin, aku bukanlah tak mau ataupun tak ada, namun aku tak ingin di kecewakan
Malin                : Lelaki seperti apa yang kau inginkan Wi?
Dewi                 : Aku hanya ingin lelaki yang sungguh mencintaiku dan mampu menafkahiku, tak menelantarkanku lin.
Sebelum Malin melanjutkan, tiba-tiba datanglah Rosita
Rosita               : Ehm.. ehm.., rupanya sedang berbicara serius kalian, kak Dewi dipanggil kak Sultan di dalam! (sambil bermuka sinis)
Dewi                : Ada apa Ros? Kok sepertinya penting
Rosita              : Mana aku mengerti kak, sudahlah sana

Dewipun menghampiri sultan di dalam rumah,sultan tampaknya akan berbicara serius.
Dewi               : Ada apa gerangan kakakku?
Sultan              : Apa kau mencintai Malin Wi,kulihat kalian dekat sekali?
Dewi               : Kenapa pertanyaannya seperti itu?
Sultan              : Kalaupun iya tak apa Wi, ayah pun setuju, aku tlah berbicara kepada ayah, Malin seorang lelaki baik, tangguh, pekerja keras
Dewi               : Mungkin kak, Dewi takut Malin tak sama perasaannya denganku
Sultan              : Baiklah, aku akan berbicara kepada Malin esok hari, sudah sana kembali
Dewi pun keluar dan dia melihat Rosita menguping di balik pintu.
Dewi               : Kenapa kau disini?
Rosita              : Apakah kakak akan dijodohkan dengan Malin?
Dewi               : Sssttttt.....berbicara apa kau Ros, tak lah ! (dengan muka marah dan suara agak keras)
Rosita              : Sudahlah kakak tak usah berbohong,aku mendengarnya di balik pintu tadi,
Dewi tak berkata apa-apa dan langsung meninggalkan Rosita.

BABAK 7
Keesokan harinya sultan menemui Malin
Sultan              : Lin ada yang ingin ku bicarakan pada kau
Malin               : Apa itu Sultan ?
Sultan              : Ayahku telah menjodohkanmu dengan Dewi,apakah kau bersedia?
Malin               : Apa kau tak salah mengucap,aku akan menikah dengan Dewi?
Sultan              : Iya lin, aku bersungguh-sungguh
Malin               : Aku bersedia tan, aku memang sudah lama menaruh hati pada adikmu itu.
Dan setelah sultan mendengar jawaban Malin, Sultan pun mengatakan ke ayahnya dan kedua adiknya, Dewi merasa bahagia namun tak dengan Rosita. Ros kecewa, patah hati, namun tak ada yang bisa ros lakukan selain menerima, dan hari pernikahan Malin dan Dewi pun ditetapkan dan pernikahan itupun terlaksana dengan meriah, setelah pernikahan itu Malin diberi rumah dan harta yang banyak sehingga dia menjadi orang kaya.

BABAK 8
Sebermula, Dewi dan Malin berlayar ke sebuah pulau yang mungkin ternyata malapetaka bagi Malin sesampainya di pulau itu.
Dewi               : Begitu indah pulau ini,apa nama pulau ini Lin?
Malin               : Aku tak tahu, aku tak pernah singgah di pulau ini (dengan suara ketakutan).
Malin hanya berharap tak ada yang melihatnya disini, namun sepertinya itu tak mungkin. Dari kejauhan teryata ada yang melihatnya, sesosok perempuan yang tak asing baginya, perempuan itupun berlari dan mendekatinya.
Nurhaida         : Kaaaakkkk Maaalliiiiiinnnnnnnnnnnn
Dewi               : Sepertinya ada yang memanggilmu Lin
Malin               : Ah tak ada,kau salah mendengarnya(keringat dingin bercucuran dikeningnya)
Nurhaida         : Kak Malin,ini benarkah kak Malin?
Dewi               : Dia mengenalmu Lin,siap dia sebenarnya? (dengan muka kaget)
Malin               : Aku tak mengenalnya,sungguh
Nurhaida         : Ini aku Nurhaida kak, kenapa kau tak mengingatku, aku adikmu (menangis)
Bundo             : Nur ada apa?
Nurhaida         : Kak Malin kembali bundo
Bundopun terkejut dan langsung menghampiri mereka bertiga
Bundo             : Ini anakku Malin?(sambil menangis senang)
Malin               : Tidak!!! Kau siapa ibu tua bangka,aku tak mengenalmu !
Bundo             : Aku ibumu nak, aku yang telah mengandung dan melahirkan Malin, apa kau  tak ingat?
Malin               : Tak mungkin,tak usah mengarang cerita tua bangka,bundoku telah lama mati
Nurahida         : Kak malin telah lupa kepada kita bundo (sambil menangis)
Dewi               :Malin! siapa sebenarnya mereka?
Malin               : Aku tak tahu, aku tak mengenalnya
Bundo             : Dasar kau anak durhaka Malin ! aku bundomu !
Malin hanya diam
Bundo             : Terkutuk kau Malin,hatimu telah jadi batu !
Seketika itu mendungpun datang, petir-petir menyambar, dan petir yang besarpun menyambar Malin dan akhirnya malin menjadi batu.

Tidak ada komentar: